Kamis, 05 Desember 2024

Mood Swing (Merasa Bersalah)

Tadi ceritanya saya boncengan bareng temen dari tempat ziarah. Saya pun meminta teman saya untuk mengantar saya sampai rumah. Saya yang buta arah dan hanya mengandalkan map saya kebingungan untuk menunjukkan jalan menuju rumah saya. Alhasil temen saya tersesat dan malah mubeng-mubeng. Saya merasa bersalah dan gak enak sama temen saya. Ini membuat mood saya jadi swing hingga menangis. Entah kenapa saya gak tau? 

Kejadiannya saat saya kuliah RPL, jadi materi kuliah tidak ada yang nyantol materinya. Walaupun saya paksa masuk kuliah.

Ini jadi pembelajaran bagi saya untuk menolak bepergian yang modelnya touring. Saya jadi trauma lama-lama. 

Kamis, 30 Mei 2024

Rasa Minder Itu Muncul Kembali

Rasa ketidaknyamanan itu muncul kembali. Aku gak tau apa yang terjadi? Sebenarnya tak ada masalah cuman ngerasa gak nyaman ketika ada yg nertawai tingkah laku saya. Ketika saya maju ke depan bingung, kikuk cari posisi yang nyaman untuk bertanya. Saya sih sebenernya gak terlalu yang gimana gitu. Tapi entahlah perasaan minder itu seolah muncul kembali dan membuat perasaan saya goyah menimbulkan rasa yang tidak nyaman. Hingga saya meneteskan air mata. Kejadian itu seolah menyadarkan saya untuk selalu waspada terhadap orang lain dalam perkumpulan komunitas besar. 

Saya sebenarnya lebih nyaman berteman, berkumpul dengan komunitas kecil seperti di tempat kerja atau komunitas yang lebih kecil. Saya sepertinya sulit membaur dengan komunitas besar. Apa saya harus bersikap biasa saja jangan terlalu freak/aneh supaya saya bisa diterima di komunitas besar. Rasanya sulit sekali menemukan komunitas yang nyaman. 

Selasa, 09 April 2024

Kehadiran saya tidak begitu penting bagi mereka

Semakin lama saya hidup. Saya merasa kehadiran saya seperti gak dianggap di keluarga sendiri kecuali nenek yang saya anggap menyayangi saya. 

Kehadiran saya seperti gak berguna, rasanya ingin sekali mati. Toh gak ada yang peduli jika saya mati. Kalaupun saya mati gak begitu pengaruh bagi keluarga saya baik itu perekonomian maupun lainnya. Dan kehidupan keluarga saya masih bisa berjalan seperti biasa tanpa kehadiran saya. 

Saya gak punya banyak temen dan gak terlalu suka bergaul jadi gak begitu meninggalkan luka yang mendalam bagi mereka. 

Siapa yang peduli dengan saya? Gak ada. 

Saya sendiri merasa kehadiran saya lebih seperti babu daripada anak di keluarga sendiri. Begitu saya di dekat mereka saya sering kali disuruh-suruh. Padahal maksud saya untuk mendekati mereka itu ingin sekali diajak berbicara (deep talk). Daripada saya seperti itu lebih baik saya di kamar saja mendengarkan musik sambil scroll HP. 
Saya merasa nyaman seperti itu. 
Saya sering kali merasa kosong walaupun saya bersama mereka. 

Kondisi Mentalku Bermasalah

Seringkali menemui di media sosial banyak yang speak up tentang mental health tapi belum pernah periksa ke psikiater bahkan ada yang menvonis sendiri punya penyakit mental. 

Kalau saya sendiri merasa saya sakit mental setelah mengatakan itu saya diantar mama saya ke psikiater setelah dari sana, ya saya beneran punya penyakit mental bahkan saya divonis depresi berat. Beneran saya gak bohong. Kemudian saya dikasih obat depresi. Penyakit depresi yang dibutuhkan support orang-orang sekitar tidak hanya sekedar diberi obat. 
Saya struggle sendirian untuk bisa melawan penyakit saya ini. Yang baru saya sadari, ketika saya sudah dewasa.
Cara saya untuk melawan ya mendengarkan musik cadas, musik up beat lainnya dan menulis. Tapi apa daya, saya gak ada support sama sekali hingga muncul pikiran keinginan untuk mati itu muncul kembali. 

Ibaratkan seperti penyakit jantung yang diberi obat dokter kalau pola hidup gak diperbaiki ya sama aja. Pola hidup yang dimaksud tetap merokok, makan sembarangan, gak olahraga dsbnya. 

Semakin lama saya sadari. Saya merasa kehadiran saya gak berguna dan saya mikir lebih baik saya mati duluan. Toh saya juga gak meninggalkan harta dan tanggungan anak. Walaupun punya rumah atas nama saya, saya gak peduli. Saya sudah terlalu lelah berhadapan dengan penyakit mental ini. 

Akhir-akhir ini saya dapat info dari guru UKS mengenai masalah mental dengan install aplikasi si jiwa tentu saja menarik minat saya yang emang dasarnya sudah kena penyakit mental. Setelah saya install dan mencoba tesnya hasilnya kondisi mental saya gak baik-baik saja seperti muncul kata-kata hubungi faskes terdekat.