Kamis, 16 Januari 2020

Depresiku Part 2

Oke bloggers langsung lanjut aja ceritaku tentang depresi yang kualami semasa SMP.

Memasuki bangku SMP, aku teringat masa-masa suram SD yang kualami yaitu bullying waktu kelas 4 - 6 SD. Aku sudah terkena dampaknya, yang kulakukan pada waktu itu kuputuskan semua kontak mereka baik di medsos maupun di kehidupan nyata.

Aku gak peduli sama mereka dan melupakan mereka, walaupun sudah mengenal medsos.

Aku makin menunjukkan gelagat yang aneh. Aku mulai sering sedih dan menangis gak jelas.

Hubungan persahabatanku mengalami pasang-surut, karna sifatku yang begitu posesif terhadap sahabatku sendiri. Aku pun gak tau kenapa kok bisa se-posesif ini dan sering takut merasa kehilangan sahabat dan kesepian.

Semakin hari aku berubah menjadi semakin pendiem dan tertutup.

Sejak SMP itulah aku sering banget tidur tengah malem dan mataku benar-benar terjaga gak bisa tidur. Padahal siangnya gak pernah tidur siang dan siangnya aku malah dengerin radio.

Mana sekolahnya jauh pula dan harus bangun lebih pagi. Alhasil di sekolah jadinya ngantuk.

Dari hobbyku dengerin radio, aku dikenalin sama musik cadas sama adekku yang waktu itu lagi hype-hypenya sama musik cadas. Dari situlah aku mulai menyukai musik cadas. Rasa cintaku terhadap musik cadas mulai tumbuh.

Aku yang awalnya hanya penikmat musik cadas, malah menjadikan musik cadas sebagai sasaran untuk melampiaskan emosiku dan kesedihanku. Apalagi semenjak mengenal namanya hp yang ada MP3nya plus headset kegemaranku akan musik cadas semakin menjadi-jadi.

Misalnya waktu hubungan persahabatanku lagi gak bagus, aku luapin emosiku, kesedihanku dan kesendirianku dengerin lagu cadas sekenceng-kencengnya rasanya plong gitu. Musik cadas udah jadi bagian hidupku.

Aku pikirnya waktu itu masih menganggap hanya emosi dan kesedihan sesaat karna emosiku yang tidak stabil. Ternyata setelah kusadari sekarang itulah tanda-tanda depresiku berawal. Aku pun masih tabu akan namanya depresi.

Sekian ceritaku.

Lanjut lagi ceritaku di depresi part 3.


Depresiku Part 1

Udah lama gak ngeblog lagi. Okelah kali ini aku mau berbagi cerita tentang depresi yang kualami, karna banyak tak bikin per bagian.


Memasuki kelas 1 SD aku dibully temenku. Kau kenapa membullyku? Salah apa hingga aku dibully?
Setelah kenaikan kelas, aku pindah sekolah.

Ketika kelas 2 SD aku pindah sekolah baru. Aku pun senang akhirnya bisa sekolah baru dan lingkungan yang baru pula.


Akan tetapi, bullying tetap menimpaku, aku diam saja dan cuek sambil terus melupakan kejadian itu. Toh sekarang juga gak begitu ingat.
Semakin lama perilaku mulai aneh, tapi aku tak menyadarinya. Mulai dari telpon mama yang gak ada suaranya di telepon yang ada di depan resto pesta perak.
Orang yang tahu itu sampai bilang, "Itu kan gak ada suaranya, ngomong sendiri ya kamu?"
Aku  gak peduli sama perkataannya waktu itu.

Memasuki kelas 3 perilaku makin aneh saja, tiba-tiba saja wali kelasku menunjukku sebagai ketua kelas. Aku merasa terbebani sebenarnya akan tanggung jawab itu, aku berusaha mengembannya semampuku. Mungkin aku stress waktu itu tapi aku gak menyadarinya.

Saat aku pergi ke kamar mandi sekolah, kubuka pintu kamar mandi dan ember berisi air tumpah menimpaku. Aku basah kuyup. Aku tau ada temen yang jail, tapi aku diam saja dan anggap kejadian itu biasa dan masa bodoh setelah kejadian itu. Aku memaafkan temenku yang mengerjainku.

Memasuki kelas 4 SD, aku disuruh pindah sekolah lagi di sekolah yang sama dengan kelas 1 SD untuk menemani mbahku di Wonosari. Aku bertemu kawan lama dan bertemu kembali orang membullyku. Tapi ya sudah jalani aja pikirku waktu itu.

Sperti yang bisa ditebak kejadian itu terulang kembali namun dalam versi yang berbeda. Aku jadi sering menangis di kamar, karena hubungan persahabatan yang kadang tidak akur satu sama lain. Temenku yang gosipin aku dibelakang, saling bermusuhan satu sama lain, dsbnya.

Naik kelas 5, sekolahku kedatangan murid baru cewek. Otomatis aku dapet temen baru. Tentunya aku bersemangat karna ada temen baru yang bisa kuajak ngobrol. Aku berpikiran positif terhadapnya.

Kejadian bullying masih terus saja terjadi di kelas 5, bahkan sudah terang-terang saling memusuhi satu sama lain. Geng sebelah membullyku dan temen segengku. Aku mulai marah, tapi semua  itu kuanggap biasa saja.

Sebenarnya aku sudah mulai merasa sendirian, tapi kuanggap wajar.

Aku baru mengetahui kebusukan temen baruku ini menjelang UASBN (kelas 6 SD) akan dilaksanakan dari temenku sendiri rasanya makjleb. Temenku yang kuanggap baik ini ternyata musuh dalam selimut. You knowlah apa yang dia lakuin dibelakangku gosipin aku dari belakang jelek-jelekin aku. Sumpah rasanya mau marah ama dia cuma yang kuanggap sperti gak ada kejadian apa-apa.

Perilaku yang aneh dan kejadian bullying yang menimpaku waktu itu berdampak pada gejala depresi. Sekali lagi kutegaskan aku gak pernah menyadari sudah menderita depresi, mengetahui apapun itu tentang depresi. Mengingat waktu itu akses internet masih terbatas dan tidak ada pengetahuan sama sekali tentang depresi.

Sekian ceritaku.

Lanjut ceritaku di depresi part 2.






Rabu, 05 Juni 2019

Reuni Setelah 5 Tahun Lamanya

Pencetus reuni ini adalah Deka (jilbab coklat muda) kontak-kontakan lewat Whats App (WA). Kepengen ketemu sama kita yang udah punya kesibukan masing-masing sperti aku (tengah gak pake jilbab) masih nganggur, Andini yang udah mulai ngajar walau belum jadi guru tetap (jilbab abu-abu), Mariska (jilbab hijau muda) dan Riana (jilbab merah tua) sibuk dengan skripsinya reuni/bukber pada hari Minggu, 19 Mei 2019. Minus Mita yang ada shift sore pada hari itu.

Kontak-kontakan lewat WA dan menetapkan tempat makan. Kami akhirnya bertemu setelah menunggu 5 tahun lamanya. Kami pun bercanda ria mengenai aktivitas kami. Seru banget deh rasanya kurang kalau cuma 2 jam doang.

Asyiklah pokoknya. Beda banget sama bukber-bukber lainnya yang cuma sekedar dateng doang. Gak ada yang pegang hp selama bukber. Bukber yang sederhana dan hanya sedikit orang tetap seru dan membekas. Kalaupun pegang hp ya cuma foto doang buat seru-seruan.



                                                                     Makan Mie Nyinyir

Aku sih pengen ketemu kalian lagi di waktu yang berbeda buat kedepannya. Thanks you're best friend. 


Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Bom Bunuh Diri di Kartasura, Jihad Salah Kaprah

Sebegitu parahkah aliran radikal merasuki pelaku bom bunuh diri?
Pertanyaan yang selalu ada di kepalaku?

Kejadian ini membuatku tak habis pikir terhadap pelaku bom bunuh diri di Kartasura. Kok bisa melakukan bom bunuh diri menjelang lebaran? 
Lebih tepatnya pada Senin malam(03/06/2019). Di momen orang-orang pada sibuk mikirin bisa mudik apa enggak?
Ini pelaku malah ngebom pos polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Untungnya pelaku bom bunuh diri masih hidup dan tak ada korban jiwa. Aku harap sih begitu ya, menunggu penyilidikan lebih lanjut dari polisi.

Bulan Ramadan yang suci justru dimanfaatkan oleh segilitir orang melakukan tindakan kejahatan yang mereka sebut dengan jihad.

Jihad menjelang lebaran buat apa coba? Bener-bener salah kaprah. Kalau mau jihad ya jangan di Indonesia negara yang damai dan momennya gak tepat. Jihad menegakkan agama ya di negara-negara konflik seperti Suriah, Yaman, Irak, Palestina, dll kalau itu baru bener.

Dilansir dari Detiknews dan Tribunnews, pelaku RA ini masih muda berusia 22 tahun sudah dicuci otak aliran radikal sejak SMA oleh pelaku tidak dikenal. Kok percaya sih? Sebegitu hebatnya orang ini mendoktrin pelaku untuk meninggalkan Pancasila, ideologi negara kita. Pelaku dikabarkan sempat menghilang dan gak mau ke masjid. Pelaku meyakini doktrin tersebut melakukannya di bulan Ramadan agar mati syahid dan masuk surga itu bener-bener salah kaprah menurutku bloggers.

Bukannya aku menentang jihad atau bentuk apapun itu untuk menegakkan agama? Tapi mbok ya dilakukan dengan tujuan yang benar dan momen yang tepat. Jangan serampangan menerapkan jihad yang diterapkan oleh segelintir orang untuk menyebarkan aliran-aliran radikal seperti akhir-akhir ini.

Aku berharap kedepannya anak-anak muda di Indonesia diberikan pendidikan agama yang mendalam dan tepat oleh orang-orang yang ahli dibidangnya. Selain itu pemerintah beserta jajarannya untuk serius memberantas konten-konten yang bersifat radikalisme. Terima kasih.